Connect with us

Camat Bluto Minta Ma’af, YLBH-Madura Dorong OPD Kecamatan lain dan OPD Tingkat Kabupaten Untuk Mencontoh Camat Bluto

Foto : Taufikurrahman., SH (Camat Bluto)

Politik

Camat Bluto Minta Ma’af, YLBH-Madura Dorong OPD Kecamatan lain dan OPD Tingkat Kabupaten Untuk Mencontoh Camat Bluto

SUMENEP (galaksi.id)— Acara lepas pisah yang diselenggarakan Pemkab Sumenep atas berakhirnya masa jabatan Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep kemarin, 17/02/2021, tampaknya terus menjadi perhatian publik.

Pasalnya, acara lepas pisah tersebut framingnya hanya menyanjung-nyanjung dan memuja-muja Bupati Demisioner. Sedangkan wakilnya, Ach. Fauzi, yang menemani bupati selama 5 tahun dianggap angin lalu alias tidak ada yang memujinya alias dianggap tidak memiliki nilai apa-apa.

Berdasarkan penelusuran awak media ini, ternyata tidak hanya pejabat tingkat Kabupaten yang bersikap demikian, melainkan juga menjamur hingga pejabat di OPD tingkat Kecamatan. Salah satunya adalah OPD Kecamatan Bluto.

OPD Kecamatan Bluto memberikan ucapan penghargaan hanya ditujukan kepada Bupati Demisioner yaitu sebagaimana terpampang dalam bener yang bertuliskan : “OPD KECAMATAN BLUTO Mengucapkan terima kasih kepada : Yth. Dr. KH. A. Busyro Karim., M.Si atas Pengabdian dan Dedikasi dalam membangun Kabupaten Sumenep Menjadi Super Mantap”.

Tidak itu saja, bener yang dibuat oleh OPD Kecamatan Bluto juga memasang jargon yang bertuliskan : “BUYA cekkak e Ate” (artinya hanya Busyro yang melekat dihati).

Penggunaan diksi dan narasi yang dipakai tersebut, juga memantik kemarahan Kurniadi, aktivis pada Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Madura (YLBH-Madura), karena sama sekali tidak mencantumkan nama wakil bupati yang merupakan satu paket sebagai pasangan pemimpin dari sudut Ketatanegaraan.

Menurut Kurniadi, selain keliru secara prinsip ketatanegaraan, diksi dan narasi yang dipakai oleh OPD Kecamatan Bluto tersebut, maupun yang dipakai oleh kalangan pejabat tingkat kabupaten, dapat menimbulkan kemarahan masyarakat terutama pendukung fanatik Ach. Fauzi, karena tidak dihitung sebagai pihak yang berjasa dan mengabdi kepada masyarakat Sumenep.

Lebih lanjut Kurniadi menjelaskan bahwa kepemimpinan Pemerintahan Daerah dipimpin oleh Pasangan Bupati dan Wakilnya. Sehingga memberikan ucapan penghargaan hanya kepada Bupati, sedangkan wakilnya tidak, merupakan perilaku birokrasi yang tidak etis, serta mencerminkan minusnya pengetahuan Ketatanegaraan.

Baca juga  Pekerja Meninggal Karena Covid-19, Hak-Hak Ketenagakerjaannya Ditahan Oleh Perusahaannya

Selain itu kata Kurniadi, bila tidak karena faktor itu, maka seiring dengan akan terjadinya pergantian kepemimpinan, fenomena tersebut dapat menimbulkan interpretasi yang lebih ekstrim, yakni terjadinya penyelundupan aset sumber daya pejabat Dilingkungan pemerintahan.

Artinya, kata Kurniadi, meski nantinya bupatinya sudah ganti ke Ach. Fauzi, akan tetapi loyalitas Pejabat dan ASN akan tetap ke bupati lama. Bukan ke bupati baru. Dan ini sangat berbahaya, kata Kurniadi.

Sementara itu, Camat Bluto ketika dimintai penjelasan terkait pemasangan bener yang hanya memberikan ucapan penghargaan kepada Bupati Demisioner, langsung mengaku salah dan meminta ma’af.

“Mohon ma’af kalau ternyata salah,” ucap Camat Bluto kepada awak media ini melaui chatt What’App (18/02).

Menanggapi pernyataan Camat Bluto tersebut, Kurniadi mengaku lega dan puas. Pasalnya, pengakuan salah dan minta ma’af dari pejabat saat ini sulit ditemukan. Kurniadi bahkan mengapresiasi camat Bluto yang tidak takabur dengan jabatannya.

Bahkan, Kurniadi berharap Camat-camat lain, dan bahkan pejabat Dilingkungan Pemkab perlu meniru perilaku Camat Bluto ini.

“Perilaku Camat Bluto patut dicontoh oleh pejabat lain, terutama pejabat ditingkat OPD Kabupaten,” harap Kurniadi kepada awak media ini melalui whats’App. (Admin).

Risalah Kebenaran

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Politik

To Top