‎Menjemput Ramadhan dengan Nyalase, Raudlatul Ulum Satukan Doa dan Kebersamaan‎

Redaksi
By Redaksi
2 Min Read
‎Menjemput Ramadhan dengan Nyalase, Raudlatul Ulum Satukan Doa dan Kebersamaan‎ (Ilustrasi)
Foto : Keluarga Besar LPI Raudlatul Ulum Desa Kapedi Bluto Sumenep

SUMENEP, galaksi.id– Keluarga besar LPI Raudlatul Ulum bersama warga menggelar tradisi nyalase dan haul majemuk di kompleks pemakaman RT 003 Kampung Biyan, Desa Kapedi Kec. Bluto Kab. Sumenep, Selasa (17/2/2026).

‎Kegiatan tersebut dihadiri sekitar ±300 jamaah yang terdiri dari masyayikh, asatidz-ustadzat, santri, alumni, serta masyarakat umum dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep.

‎Sejak pukul 08.00 WIB, jamaah mengikuti rangkaian tiga kali khatmil Qur’an hingga menjelang Dzuhur. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema khidmat di area pemakaman, menciptakan suasana religius yang sarat makna.

‎Memasuki sore hari, agenda dilanjutkan dengan tawassul, pembacaan Surah Yasin, dan tahlil bersama mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai. Momentum ini tidak hanya menjadi ruang untuk mendoakan para leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan silaturahmi antara pesantren dan masyarakat.

‎Direktur LPI Raudlatul Ulum, Ra Hanif, menegaskan bahwa nyalase bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari proses pendidikan spiritual yang tumbuh bersama masyarakat.

‎“Nyalase ini bukan hanya soal ziarah, tapi membangun kesadaran bahwa ilmu, ibadah, dan kehidupan sosial harus berjalan bersama. Pesantren hadir untuk masyarakat, dan masyarakat adalah bagian dari pesantren,” ujarnya

‎Pelaksana lapangan kegiatan, Ust. Fajar Maulana, menyebut partisipasi warga menunjukkan tren peningkatan setiap tahun.

‎“Alhamdulillah, dari tahun ke tahun jamaah semakin antusias. Ini tanda bahwa tradisi keagamaan yang dikemas dengan kebersamaan selalu dirindukan masyarakat,” katanya.

‎Sementara itu, H. Lukman Hakim dari unsur yayasan menilai tradisi nyalase memiliki dimensi sosial yang kuat dan relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

‎“Kami melihat tradisi ini bukan hanya ibadah, tapi juga investasi sosial. Kebersamaan seperti ini memperkuat solidaritas, sekaligus menjadi identitas religius masyarakat,” tuturnya.

‎Dengan semangat kebersamaan tersebut, tradisi nyalase diharapkan terus menjadi penguat nilai spiritual dan sosial, sekaligus menjadi pengantar menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih dan penuh kebersamaan. (Fandi/Red)

- Advertisement -
Share This Article